Cara Chelsea Atasi Rasialisme: Kirim Pelaku ke Kamp Nazi

Cara Chelsea Atasi Rasialisme: Kirim Pelaku ke Kamp Nazi

Situ Agen Maxbet Bandar Maxbet Terbaik – Sebuah terobosan dilakukan Chelsea untuk menghukum suporter yang kerap melakukan aksi rasialisme. Mereka berniat mengirimnya ke kamp konsentrasi Nazi.

Chelsea dalam beberapa tahun terakhir lantang mengampanyekan anti-semitisme atau larangan SARA di Stamford Bridge. Pemiliknya yang juga sosok Yahudi, Roman Abramovich, menjadi pionirnya.

Bentuk upaya Chelsea untuk memerangi suporter yang kerap menyerang SARA bermacam-macam. Yang terbaru adalah memberi suporter itu pendidikan moral agar lebih menghargai sesama.

Seperti dikutip The Sun, Chelsea akan mengirim suporter rasialisme ke kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Polandia. Mereka diharapkan bisa mengubah sikapnya agar lebih sesama suporter yang berbeda etnis, baik suku atau agama.

Kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz merupakan bekas tempat pembantaian terhadap jutaan etnis Yahudi yang dilakukan Nazi pimpinan Adolf Hitler pada era Perang Dunia II. Genosida terbesar sepanjang sejarah umat manusia itu disebut peristiwa Holocaust.

Baca Juga :Hazard Sedang dalam Versi Terbaiknya

Di kamp Auschwitz, yang menjadi salah satu Holocaust Memorial atau tempat untuk mengenang genosida itu, wisatawan diminta menjaga sikap agar bisa menghargai kehidupan. Salah satu aturannya bahkan melarang bermain ponsel.

“Jika Anda hanya melarang seseorang, Anda tidak akan pernah mengubah perilaku mereka. Kebijakan ini memberi mereka kesempatan untuk menyadari apa yang telah mereka lakukan, untuk membuat mereka ingin berperilaku lebih baik,” kata ketua Chelsea Bruce Buck kepada The Sun.

“Sebelumnya, kami akan mencokok mereka dari kerumunan dan melarang mereka datang hingga tiga tahun. Sekarang kami akan mengatakan ‘Kamu bersalah. Anda punya pilihan, kami bisa mencekal Anda atau Anda meluangkan waktu bersama petugas keberagaman kami, memahami kesalahan Anda,’ tambahnya.

Cara ini bisa saja ditiru oleh klub-klub Indonesia, yang mana suporternya masih kerap melakukan intimidasi berlebihan di dalam stadion. Alih-alih melarang datang, sebaiknya dibenahi cara berpikir suporter.